Oleh: Ervand Rizky Saleh
DISKUSI di forum Advance Training Latihan Kader (LK) III Badan Koordinasi (Badko) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) soal materi Ideopolstratak yang secara bangga dibawakan oleh pemateri nasional, Mantan Ketua Umum Kohati PB sekaligus anggota dari KPU RI yaitu Ayunda Betty Epsilon Idroos.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa kita sebagai kader HMI itu sendiri, kita sangat sering membahas teori-teori yang hebat soal bagaimana caranya untuk mengatur negara. Tapi bagi saya sendiri, ada satu hal yang jauh lebih mendasar dan penting buat kita menjaga segala hal yang ada di HMI, yaitu gimana caranya kita tetap bersih dan tidak gampang tergoda sama yang namanya politik uang atau “Money politics”.
Kita sebagai kader HMI semua turut bangga turut menyebutkan bahwa HMI sebagai “Laboratorium Pemimpin”? Nah, justru karena label itu, kita punya beban moral yang sebenarnya harus kita buktikan bahwa kalau di organisasi ini adalah tempatnya orang-orang yang menjual ide, gagasan serta solusi bahkan rekomendasi, bukan hanya untuk menjual suara hanya agar mendapatkan pundi-pundi materialistik.
Jangan sampai integritas yang sudah dibangun sama senior-senior kita dulu luntur gara-gara kita tidaak kuat menahan godaan “materi” pada saat ada kontestasi di internal HMI itu sendiri, entah itu di tataran komisariat, konfercab maupun Kongres. Secara Ideologi, HMI telah mengajarkan kita untuk menjadi insan akademis yang independen.
Merdeka dalam berpikir dan bertindak. Kalau kita sampai membiarkan politik uang atau “Money politics” masuk ke urusan organisasi, sebenarnya kita sedang merusak jati diri kita sendiri sebagai kader umat dan bangsa.
Materi strategi dan taktik yang kita dapat di LK3 ini harusnya jadi bekal buat kita untuk membuat perubahan yang berdampak buat masyarakat, bukan malah digunakan buat cari celah bagimana caranya menang dengan cara-cara yang nggak asik.
Di ruang internal kita, semestinya bagaimana kita harus sadar kalau HMI itu merupakan harapan banyak orang. Apa yang kita lakukan di dalam organisasi sini akan menjadi cerminan bagaimana kita pada saat nanti kita memimpin di luar.
Menghindari politik uang itu bukan berarti kita menganggap HMI itu buruk dan berpikir untuk tidak lagi berproses di HMI, justru karena kita sebagai seorang insan yang dilahirkan untuk menjadi seorang Khalifah (pemimpin) dimuka bumi yang dimana seharunya kita mempunyai rasa tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin, dimana kita harus menjaga organisasi ini agar supaya tetap masih berada di poros dari tujuan HMI itu sendiri.
Kita menginginkan pemimpin yang terpilih itu benaran karena otaknya encer dan kerjanya nyata, bukan karena “amunisinya”. Balik ke Adu Gagasan: Kita harus membuktikan kalau kader HMI itu tidak bisa dibeli. Dukungan itu harusnya datang karena kita sepaham sama tujuan daripada organisasi, bukan karena mendapatkan uang saku atau janji-janji manis.
Kita harus cukup berwibawa buat menolak itu semua. Jaga Nama Baik Himpunan: Setiap ada momen pemilihan, itu adalah ujian buat kita. Mari kita tunjukkan kalau kader HMI itu berbeda dengan yang lain, punya kelas, etika dan punya moral yang tinggi.
Kita harus berhenti buat praktek yang bisa bikin malu nama besar organisasi kita. Pada Intinya, kalau kita menginginkan membenah demokrasi bangsa ini, ya kita harus mulai dari bagaimana cara kita berorganisasi. Mari kita jaga HMI supaya tetap menjadi tempat yang nyaman buat tumbuh, tanpa perlu tergiur dengan urusan “money politics”.
Dengan begitu, kita bisa bangga bilang kalau dari rahim HMI, masih lahir pemimpin yang jujur dan peduli sama rakyat. Yakin Usaha Sampai.(***)





