Milad ke-79 HMI: Refleksi Kritis atas Cita-Cita Masyarakat Adil Makmur

 

Penulis: Ali (Mantan Ketua Umum HMI Cabang Manado)

HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) kembali memperingati hari lahirnya yang ke-79 tahun. Usia yang kian matang ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi mendalam atas perjalanan sejarah, peran, dan tanggung jawab ideologis HMI terhadap kondisi sosial bangsa hari ini.

Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI mengusung tujuan luhur “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT”.

Tujuan ini bukan sekadar jargon organisasi, melainkan amanah perjuangan yang menuntut pengimplementasian nyata oleh seluruh kader HMI. Namun, memasuki usia ke-79 tahun, pertanyaan mendasar kembali mengemuka: sejauh mana tujuan besar tersebut benar-benar terwujud di tengah realitas sosial masyarakat?

Refleksi kritis ini menguat setelah mencuatnya kabar duka dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang anak dilaporkan mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga yang tidak mampu membelikan buku dan pulpen untuk kebutuhan sekolah. Tragedi ini tidak hanya menyayat nurani publik, tetapi juga menyingkap wajah ketimpangan sosial dan kemiskinan struktural yang masih menghantui kehidupan rakyat kecil.

Baca Juga:  Deklarasi Alumni Boedoet 145 untuk Mendukung Paslon Capres AMIN

Kita mungkin tidak mampu membayangkan kondisi psikologis anak tersebut saat harus mengambil keputusan paling tragis dalam hidupnya. Bagaimana tekanan batin, rasa putus asa, dan beban mental yang dipikul seorang anak hanya karena keterbatasan ekonomi keluarganya. Di usia yang seharusnya dipenuhi harapan dan mimpi, anak tersebut justru dihadapkan pada realitas pahit yang melampaui batas kemampuan psikologisnya.

Lebih dari itu, peristiwa ini juga menjadi pukulan yang sangat kuat bagi kondisi psikologis sang ibu. Kehilangan anak dengan cara seperti ini bukan hanya duka mendalam, tetapi juga trauma berkepanjangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa bersalah, penyesalan, dan luka batin akan terus menghantui, padahal akar persoalan sesungguhnya bukan terletak pada keluarga tersebut, melainkan pada sistem sosial yang gagal melindungi mereka.

Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa akses terhadap pendidikan yang layak—sebagai fondasi utama terwujudnya masyarakat adil dan makmur—belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh anak bangsa. Ironisnya, kondisi ini masih terjadi di tengah keberadaan organisasi-organisasi intelektual, termasuk HMI, yang telah lama mengklaim diri sebagai agen perubahan sosial.

Baca Juga:  Dikalahkan di PTUN, Rektor Unsrat Banding

Oleh karena itu mari kita merefleksi bahwa tragedi di NTT harus dijadikan titik balik kesadaran kolektif kader. HMI tidak boleh hanya hadir dalam forum diskusi dan agenda internal. HMI harus sering turun di tengah masyarakat dalam kegiatan sosial, menyentuh langsung persoalan rakyat, terutama di bidang pendidikan, kemiskinan, dan kemanusiaan.

Pengabdian sosial bukanlah aktivitas tambahan, melainkan inti dari perjuangan HMI itu sendiri. Tanpa kehadiran langsung di tengah masyarakat, nilai-nilai keislaman dan keadilan sosial yang diusung HMI akan kehilangan makna praksisnya.

Penting juga kita menjaga kekompakan dan persatuan, sebagai syarat mutlak untuk merealisasikan tujuan HMI. Konflik internal, kepentingan kelompok, dan pragmatisme kekuasaan dinilai telah melemahkan orientasi perjuangan organisasi. HMI yang tidak solid akan sulit menghadirkan gerakan sosial yang berkelanjutan dan berdampak nyata.

Milad ke-79 ini seharusnya menjadi momentum konsolidasi ideologis dan organisatoris. Bukan sekadar mengenang romantisme sejarah, tetapi membangun kembali komitmen kader untuk bersatu dan hadir di tengah masyarakat. Mari wujudkan tujuan HMI, masyarakat adil dan makmur, dengan memperbanyak gerakan sosial, advokasi pendidikan, dan aksi-aksi kemanusiaan yang langsung dirasakan oleh rakyat.

Baca Juga:  Terkait Perkampungan Ilegal WNI di Malaysia Migrant Watch Layangkan Kritik Pedas

HMI tanpa pengimplementasian tujuan sejatinya kehilangan makna keberadaannya. Ber-HMI bukan tentang status dan simbol, melainkan tentang keberanian mengambil posisi di tengah ketidakadilan. Jika tujuan HMI hanya berhenti sebagai teks konstitusi, maka pertanyaan mendasar patut diajukan: untuk apa ber-HMI?

Sebagaimana pepesaJenderal Sudirman, HMI adalah harapan masyarakat Indonesia. Ungkapan ini bukan sekadar kutipan historis, melainkan amanah moral yang harus dijawab dengan tindakan nyata. Harapan itu hanya akan hidup jika kader HMI benar-benar sering turun di tengah masyarakat, hadir dalam kegiatan sosial, dan berdiri bersama rakyat yang selama ini terpinggirkan.

Milad ke-79 HMI akhirnya menjadi ujian kedewasaan organisasi. Apakah HMI mampu menjawab tantangan zaman dengan kerja-kerja sosial yang konkret dan berkelanjutan, atau justru larut dalam rutinitas internal yang menjauh dari denyut nadi masyarakat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *