Papeda, Domino Batu, dan Rindu Kampung Halaman, Potret Keakraban Warga Malut di Jakarta

EXPOSEMEDIA.ID, JAKARTA – Nuansa keakraban terlihat begitu ketal, terjadi pada Minggu, (20/09/2026), di Jakarta. Aroma papeda yang masih mengepul, kepingan domino yang beradu di atas meja. Begitu pula tawa lepas dalam dialek Maluku yang khas terdengar. Di sebuah rumah di perantauan, rindu akan kampung halaman di Maluku Utara (Malut), berlahan terobati.

Itulah suasana kumpul-kumpul Komunitas DIASPORA Malut dan Makayoa Bersatu di kediaman Ketua Pembina, Nabil M. Salim. Meski jauh dari laut dan gunung Kie Besi, ikatan persaudaraan itu tidak pernah putus.

Dalam sebuah acara silaturahmi sederhana namun penuh makna di rumah Ketua Pembina, itu menyatukan warga Malut yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Tidak ada panggung mewah. Yang ada hanya satu panci besar papeda, ikan kuah kuning, sambal colo-colo, dan berupa sambel khas Malut serta beberapa set kartu domino bati yang menjadi magnet utama.

Baca Juga:  Dukung Ketahanan Pangan, Eko Patrio dan PAN Sulut Berbagi Bersama Ojek Online
Terlihat Nabil M. Salim, saat main dominu

Bagi perantau, papeda bukan sekadar makanan. Ia adalah memori. Cara menyantapnya yang khas dengan sumpit kayu, mengingatkan semua orang pada dapur di kampung halaman di Ternate, Tidore, Makean Bacan, Tobelo, hingga Morotai.

“Di sini torang semua basudara,” ujar Ketua Pembina Nabil M. Salim.

Pada bagian yang lain, suasana permainan domino berlangsung seru. Adu strategi, saling menggertak, diselingi teriakan “domino” yang disambut gelak tawa bersama. Inilah cara khas warga Maluku Utara merayakan kebersamaan.

Makan papeda, dan suasana canda tawa

Selain itu juga, pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar makan-makan. Ini adalah ruang untuk berbagi cerita, bertanya kabar keluarga di kampung, hingga saling menguatkan di tanah rantau.

Di bawah naungan Nabil M. Salim sebagai Ketua Pembina, Komunitas DIASPORA Malut dan Makayoa Bersatu membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer tidak mampu menghapus identitas. Selama papeda masih dihidangkan dan domino masih dimainkan, Maluku Utara akan selalu dekat di hati. (*/Mas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *