UNSRAT Raih Green Building Appreciation Award, GBCI Dorong Perubahan dari Bangunan Menuju Kehidupan Lebih Baik

 

Penulis: Ali (Pengurus GBCI Sulut)

TRANSFORMASI menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan semakin menjadi kebutuhan penting di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan, perkembangan infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap lingkungan binaan yang sehat dan berkualitas. Menjawab tantangan tersebut, Green Building Council Indonesia (GBCI) Pusat kembali memperkuat komitmennya melalui kegiatan yang mengangkat tema Transformasi Hijau Indonesia, Dari Bangunan untuk Kehidupan yang Lebih Baik.

Tema tersebut tidak sekadar menjadi slogan dalam kegiatan, tetapi membawa pesan yang lebih luas mengenai arah pembangunan Indonesia. Transformasi hijau dipahami sebagai sebuah proses perubahan menyeluruh dalam cara manusia merencanakan, merancang, membangun, menggunakan, dan mengelola lingkungan binaan.

Bangunan tidak lagi cukup dipandang hanya sebagai struktur fisik yang menyediakan ruang untuk bekerja, belajar, tinggal, maupun beraktivitas. Bangunan merupakan bagian dari ekosistem kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan penggunaan energi, konsumsi sumber daya, pengelolaan air, produksi limbah, kualitas udara, kesehatan manusia, kenyamanan pengguna, serta keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, pembangunan berkelanjutan membutuhkan perubahan cara pandang. Keberhasilan sebuah bangunan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan struktur, keindahan arsitektur, maupun fungsi ruang, tetapi juga oleh seberapa besar bangunan tersebut mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi manusia.

Kegiatan GBCI Pusat dihadiri oleh para perwakilan GBCI dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk GBCI Sulawesi Utara. Kehadiran perwakilan dari berbagai daerah menjadi gambaran bahwa agenda pembangunan hijau membutuhkan gerakan bersama dan tidak dapat dilakukan secara parsial. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat jejaring, bertukar pengetahuan, serta membangun perspektif bersama mengenai tantangan lingkungan binaan di Indonesia.

Setiap wilayah memiliki karakteristik dan persoalan yang berbeda. Kondisi perkotaan, ketersediaan sumber daya, pola pembangunan, karakter iklim, kepadatan penduduk, hingga sistem pengelolaan limbah memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, penerapan prinsip green building juga membutuhkan pendekatan yang kontekstual dan mampu menyesuaikan dengan kondisi lokal.

Keterlibatan GBCI Sulawesi Utara dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara agenda pembangunan hijau di tingkat nasional dengan kebutuhan dan potensi pembangunan berkelanjutan di daerah.

Salah satu bagian penting dalam kegiatan itu adalah keynote session yang membahas From Buildings to Movement: Accelerating Indonesia’s Sustainable Built Environment. Pembahasan tersebut memperluas perspektif mengenai konsep green building.  Gerakan bangunan hijau tidak semestinya berhenti pada satu gedung yang memenuhi standar tertentu, tetapi perlu berkembang menjadi gerakan yang memengaruhi ekosistem pembangunan secara keseluruhan.

Artinya, prinsip keberlanjutan harus hadir sejak tahap perencanaan, pemilihan lokasi, desain, pemilihan material, proses konstruksi, penggunaan energi, pengelolaan air, pengelolaan sampah, hingga tahap operasional dan pemeliharaan bangunan.

Baca Juga:  Brilliant Maengko Cs Tak Becus Tindak Pelanggaran Pemilu, DKPP Jatuhi Sanksi Peringatan Keras

Pendekatan tersebut menempatkan bangunan sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Ketika semakin banyak bangunan menerapkan prinsip keberlanjutan, maka dampaknya dapat berkembang menjadi perubahan pada skala kawasan, kota, bahkan nasional.

Transformasi dari buildings to movement pada akhirnya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan regulasi, dunia usaha dalam inovasi dan investasi, akademisi melalui riset dan pengembangan pengetahuan, para profesional melalui desain dan implementasi, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam mengubah perilaku penggunaan lingkungan binaan.

Sektor bisnis juga memiliki posisi strategis dalam mempercepat pembangunan berkelanjutan. Keputusan investasi, pemilihan teknologi, penggunaan material, metode konstruksi, hingga pengelolaan bangunan memiliki pengaruh terhadap besarnya dampak lingkungan. Karena itu, transformasi hijau perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan hanya sebagai kewajiban tambahan.

Efisiensi energi, pengurangan biaya operasional, pemanfaatan teknologi rendah karbon, penggunaan material berkelanjutan, pengelolaan limbah, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular dapat menjadi bagian dari inovasi yang sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan berkelanjutan tidak harus dipertentangkan dengan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, prinsip keberlanjutan dapat menjadi salah satu sumber inovasi dan daya saing baru.

Sektor konstruksi juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan penggunaan sumber daya dan emisi karbon. Oleh karena itu, pemilihan material yang tepat, efisiensi penggunaan bahan, pengurangan material terbuang, serta penerapan metode konstruksi yang lebih rendah karbon menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju lingkungan binaan yang berkelanjutan.

Pendekatan ini juga menuntut adanya inovasi dalam industri material dan konstruksi. Material yang lebih ramah lingkungan, memiliki umur layanan panjang, dapat digunakan kembali, atau memiliki jejak karbon lebih rendah perlu semakin mendapatkan perhatian. Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya dimulai ketika bangunan telah selesai dibangun, tetapi sejak material pertama dipilih dan proses konstruksi dimulai.

Salah satu isu penting lainnya adalah waste management dan circular economy. LPersoalan sampah tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kawasan perkotaan dan aktivitas bangunan.

Lingkungan binaan menghasilkan berbagai jenis sampah, baik dari aktivitas konstruksi maupun dari penggunaan bangunan sehari-hari. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan persoalan lingkungan, kesehatan, estetika kawasan, hingga pencemaran tanah dan air. Karena itu, diperlukan sistem penanganan sampah yang bertanggung jawab sejak dari sumbernya.

Langkah pertama adalah mengurangi timbulan sampah melalui perencanaan dan penggunaan material secara efisien. Pada tahap konstruksi, perhitungan kebutuhan material yang lebih akurat dapat membantu mengurangi material sisa. Material yang masih memiliki nilai guna juga perlu dipertimbangkan untuk digunakan kembali.

Baca Juga:  Perkuat Peran Kelembagaan, Karang Taruna Cileungsi Siap Gelar Upgrading Pengurus

Pada tahap operasional bangunan, pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah penting. Sampah organik, anorganik yang dapat didaur ulang, serta residu perlu ditangani dengan sistem yang berbeda agar material yang masih memiliki nilai ekonomi tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

Sampah organik dapat diarahkan pada proses pengomposan atau pengolahan lainnya, sementara material seperti kertas, plastik, logam, dan kaca dapat dikumpulkan untuk digunakan kembali atau masuk ke rantai daur ulang.

Pendekatan ini mengubah paradigma dari buang dan selesai menjadi kelola dan manfaatkan kembali. Konsep tersebut sejalan dengan prinsip circular economy, yaitu menjaga agar material dan sumber daya tetap memiliki nilai selama mungkin dalam siklus penggunaannya. Dengan demikian, sampah tidak selalu dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.

Penanganan sampah yang bertanggung jawab juga membutuhkan dukungan sistem. Bangunan perlu memiliki fasilitas pemilahan yang memadai, informasi yang jelas bagi pengguna, mekanisme pengangkutan yang tepat, serta kerja sama dengan pihak pengelola sampah dan industri daur ulang.

Yang tidak kalah penting adalah perubahan perilaku. Sistem pengelolaan sampah yang baik tidak akan berjalan optimal apabila pengguna bangunan tidak memiliki kesadaran untuk memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Dengan demikian, pengelolaan sampah menjadi bagian integral dari konsep green building bukan persoalan yang baru dipikirkan setelah bangunan selesai digunakan. Pembahasan dalam kegiatan juga mencakup net-zero roadmap, green products, serta berbagai inovasi yang relevan dengan konteks Indonesia.

Perjalanan menuju net zero membutuhkan strategi yang jelas dan bertahap. Pengurangan konsumsi energi, peningkatan efisiensi bangunan, pemanfaatan energi terbarukan, optimalisasi sistem mekanikal dan elektrikal, serta penerapan desain pasif menjadi sejumlah pendekatan yang dapat dilakukan.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki karakter iklim tropis, strategi desain bangunan juga perlu memperhatikan potensi pencahayaan alami, ventilasi silang, perlindungan terhadap panas matahari, penggunaan material yang sesuai, serta efisiensi sistem pendinginan.

Sementara itu, kehadiran green products dan teknologi baru membuka peluang bagi sektor konstruksi untuk mempercepat transformasi. Namun, inovasi tersebut perlu ditempatkan dalam konteks kebutuhan Indonesia, sehingga teknologi yang dikembangkan tidak hanya menarik secara teknis, tetapi juga dapat diterapkan secara efektif, ekonomis, dan berkelanjutan.

Momentum kegiatan GBCI Pusat semakin istimewa dengan diterimanya Green Building Appreciation Award oleh Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi GBCI terhadap komitmen UNSRAT dalam mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan penerapan konsep green building di lingkungan perguruan tinggi.

Baca Juga:  DKPP RI Ingatkan KPU dan Bawaslu Bekerja Profesional di Tahapan Pilkada

Penghargaan tersebut diterima oleh Wakil Rektor IV UNSRAT, Prof. Dr. Ir. Steenie Wallah. Penerimaan penghargaan ini menjadi momentum penting bagi UNSRAT untuk terus memperkuat komitmen terhadap pembangunan kampus yang lebih berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis karena tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia, tetapi juga menjadi pusat penelitian, inovasi, pengembangan teknologi, dan pendidikan publik.

Kampus dapat menjadi laboratorium nyata bagi penerapan berbagai prinsip keberlanjutan. Mulai dari efisiensi energi, pengelolaan air, pengurangan sampah, pemanfaatan ruang terbuka, penggunaan material, hingga peningkatan kualitas lingkungan dalam ruang.

Melalui penerapan tersebut, kampus dapat memberikan contoh bahwa pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan GBCI Sulawesi Utara bersama perwakilan GBCI dari berbagai daerah juga menunjukkan pentingnya membawa agenda nasional ke tingkat lokal.

Pertumbuhan kota dan pembangunan infrastruktur di Sulawesi Utara membutuhkan pendekatan yang semakin memperhatikan keberlanjutan. Pembangunan kawasan permukiman, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, ruang komersial, maupun sektor pariwisata perlu mempertimbangkan efisiensi energi, penggunaan sumber daya, pengelolaan sampah, serta daya dukung lingkungan.

Dalam konteks tersebut, penerapan green building dapat menjadi salah satu instrumen untuk menciptakan lingkungan binaan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. GBCI memiliki peran penting dalam mempertemukan pengetahuan, standar, profesionalisme, serta praktik terbaik agar transformasi tersebut dapat dilakukan secara terarah.

Pada akhirnya, tema Transformasi Hijau Indonesia, Dari Bangunan untuk Kehidupan yang Lebih Baik membawa pesan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berorientasi pada manusia dan lingkungan.

Bangunan yang baik bukan hanya bangunan yang berdiri kokoh dan memiliki tampilan menarik. Bangunan yang baik adalah bangunan yang mampu menggunakan energi secara efisien, mengelola sumber daya secara bijaksana, mengurangi limbah, menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman, serta memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Transformasi hijau juga tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, arsitek, insinyur, pengembang, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat perlu mengambil bagian dalam proses tersebut.

Karena itu, kegiatan GBCI Pusat menjadi lebih dari sekadar forum diskusi. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan memperkuat gerakan menuju perubahan yang lebih nyata. Dari bangunan kita memulai perubahan. Dari perubahan kita membangun gerakan. Dari gerakan kita menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Dan dari lingkungan yang berkelanjutan, kita menghadirkan kehidupan yang lebih baik.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *