Hasil Sampel DLH Manado, Kualitas Udara Menurun Gara-gara Karhutla

EXPOSEMEDIA, MANADO– Kualitas udara di Kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah di Indonesia serta kebakaran yang masih terjadi di sejumlah titik di Sulawesi Utara.

Koordinator Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Utara, Candra Buana, mengungkapkan asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Papua, dan Papua Barat terbawa arus atmosfer hingga ke wilayah Sulawesi. “Ya, asapnya terbawa angin. Kebetulan arah angin berubah melewati Sulawesi, jadi hampir semua wilayah di pulau ini terdampak,” kata Candra, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, fenomena kabut asap lintas batas atau transboundary haze telah terpantau selama beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut mencakup sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, termasuk Kota Manado. Kondisi semakin diperparah oleh titik api lokal. Kebakaran di kawasan Gunung Klabat, Taman Wisata Alam Batuputih-Batuangus, serta Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumompo dilaporkan masih berlangsung dan menghasilkan asap pekat.

Baca Juga:  BOLTIM : Tim SBRG Beber 5 Titik Rawan dan Potensi Pelanggaran Pilkada

Di TPA Sumompo, konsentrasi gas metana bahkan pernah terdeteksi melampaui 50.000 ppm. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya ledakan. “Ya benar, penurunan kualitas udara yang mulai terasa sejak puncak musim kemarau pada Agustus dan berlanjut hingga akhir September,” ucap Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado, Leon Piri.

Lanjutnya, Karhutla sering terjadi, sehingga asap di atas Manado semakin pekat. “Selain asap kebakaran, kualitas udara juga dipengaruhi partikel debu yang terbawa angin kencang selama musim kemarau serta emisi kendaraan bermotor. Aktivitas pembakaran sampah oleh masyarakat dan pembukaan lahan dengan cara dibakar juga menjadi persoalan yang turut memperburuk kondisi udara,” kata Leon.

Baca Juga:  Dilantik Walikota AA, Steaven Dandel Resmi Jabat Sekretaris Kota Manado

Leon menambahkan, bahwa DLH Kota Manado telah melakukan pengambilan sampel udara di sejumlah lokasi, mulai dari kawasan industri, perkantoran, simpul transportasi hingga permukiman. “Hasil pengukuran pada semester pertama 2026 masih menunjukkan kondisi di bawah baku mutu. Namun, situasi dalam beberapa pekan terakhir dinilai akan mengalami perubahan seiring meningkatnya aktivitas kebakaran dan kondisi kemarau,” pungkasnya.(ale/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *