Oleh: Ir Nabil M. Salim
Lima abad lalu, peta dunia digambar ulang bukan di Eropa, melainkan di sebuah kepulauan kecil di timur Indonesia. Di sanalah, di Maluku Utara, cengkeh dan pala tumbuh dan menjadi alasan kapal-kapal berlayar mengelilingi separuh bumi.
Sejarah mencatat, jauh sebelum kolonialisme datang, Maluku Utara telah menjadi pusat perdagangan dunia. Sejak abad ke-13, Ternate dan Tidore dikenal dalam kancah perdagangan global sebagai pusat rempah. Empat kesultanan besar, Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan, yang disebut sebagai Moloku Kie Raha atau Empat Gunung Maluku, membangun kekuatan maritim yang mampu mengontrol jalur perdagangan di kawasan ini. Cengkeh dan pala bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi kekuasaan. Para saudagar Arab, India, Tiongkok, dan Persia datang silih berganti, dan karena nilainya yang luar biasa, Ternate dan Tidore dijuluki The Spice Islands oleh bangsa Eropa.
Rempah membuat Maluku Utara penting bagi dunia, tetapi juga membuatnya rentan. Portugis, Spanyol, lalu Belanda bertempur bukan untuk tanahnya, melainkan untuk aromanya. Kesultanan yang dulu berdaulat perlahan dijadikan alat dalam monopoli dagang. Inilah paradoks pertama kita: kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber kemakmuran justru menjadi undangan bagi perebutan.
Kini, lima abad kemudian, aroma itu telah berganti dengan kilau logam. Di pulau yang sama, di Halmahera, dunia kembali datang. Bukan lagi untuk cengkeh, melainkan untuk nikel dan emas.
Di Halmahera Utara, Tambang Emas Gosowong yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara menjadi salah satu sumber emas terbesar di Indonesia. Kontrak Karya-nya ditandatangani pada 28 April 1997 dan produksi emas pertama dihasilkan pada Juli 1999. Setelah diambil alih oleh PT Indotan Halmahera Bangkit pada 2020, cadangan tercatat mencapai 1,4 juta ounces dengan sumber daya 2,3 juta ounces. Emas Gosowong adalah kelanjutan dari narasi lama: tanah Halmahera menyimpan sesuatu yang diburu dunia.
Sementara itu di Halmahera Tengah, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Kecamatan Weda Tengah telah menjadi salah satu tambang nikel terbesar di dunia. Didirikan pada 2018 sebagai kawasan industri terpadu, IWIP tidak hanya menambang, tetapi mengolah nikel menjadi bahan baja nirkarat dan komponen baterai kendaraan listrik. Jika dulu rempah menggerakkan kapal layar, kini nikel Maluku Utara menggerakkan mobil listrik di jalan-jalan Beijing, Berlin, dan California.
Relasi antara kedua zaman ini bukan sekadar pergantian komoditas. Ia adalah cermin.
Pertama, ada kontinuitas geopolitik. Dulu, yang diperebutkan adalah siapa menguasai selat dan bandar. Kini, yang diperebutkan adalah siapa menguasai smelter dan rantai pasok baterai. Dulu kekuatan asing datang dengan meriam dan perjanjian monopoli, kini datang dengan investasi dan teknologi hilirisasi. Maluku Utara tetap berada di posisi yang sama: pinggiran secara politik, tetapi pusat secara geologi.
Kedua, ada diskontinuitas yang penting. Rempah adalah kekayaan yang terbarukan. Cengkeh bisa ditanam kembali, pala bisa dipanen setiap musim. Nikel dan emas tidak. Sekali dikeruk, ia hilang selamanya, meninggalkan lubang, tailing, dan hutan yang gundul. Dari sisi insinyur, saya melihat perbedaan mendasar ini sering dilupakan dalam euforia hilirisasi. Kita memperlakukan tambang seperti kebun, padahal ia adalah tabungan satu kali pakai.
Ketiga, ada pertanyaan tentang kedaulatan. Kesultanan Ternate dan Tidore, sekuat apa pun tekanan asing, pernah menjadi aktor yang berunding, menawar, dan sesekali melawan. Hari ini, aktornya jauh lebih kompleks: negara, BUMN, perusahaan swasta nasional, dan konsorsium global. Pertanyaannya tetap sama seperti 400 tahun lalu: siapa yang menentukan harga, siapa yang menikmati nilai tambah, dan siapa yang menanggung kerusakan?
Inilah yang harus kita jujur akui. Transisi dari negeri rempah ke negeri nikel tidak otomatis menjadi kemajuan. Jika polanya sama, yakni kekayaan mentah mengalir keluar dan risiko ekologis tinggal di dalam, maka kita hanya mengulang sejarah kolonial dengan wajah baru yang lebih bersih dan memakai helm proyek.
Maluku Utara pernah mengajarkan dunia tentang nilai. Kini ia harus mengajarkan Indonesia tentang cara mengelola nilai itu. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada smelter. Ia harus berarti transfer teknologi yang nyata, keberanian menegosiasikan saham dan royalti yang adil, serta ketegasan menjaga sungai dan hutan Halmahera agar tidak menjadi korban kedua setelah rempah.
Rempah membuat Maluku Utara dikenal dunia. Nikel dan emas membuatnya dibutuhkan dunia. Antara dikenal dan dibutuhkan ada jarak tanggung jawab yang besar. Tugas generasi kita adalah memastikan jarak itu tidak diisi oleh penyesalan, melainkan oleh kedaulatan yang belajar dari masa lalu. (*/Red)












