Menanti Sentuhan Tangan Dingin Putra Kie Raha untuk Kemajuan Petani dan Rakyat Indonesia

Oleh: Ir. Nabil M Salim

Ketika Presiden Prabowo Subianto melantik Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian pada 1 Oktober 2026 di Istana Negara, ada rasa bangga yang tak bisa disembunyikan dari dada kami, anak-anak Kie Raha di perantauan.

Untuk pertama kalinya, putra asli Ternate, Maluku Utara, kelahiran 14 Maret 1969, lulusan Akademi Militer 1991, mantan Wakasad, kini berdiri di garda terdepan kedaulatan pangan nasional. Ia mengisi posisi Wamentan yang kosong hampir tiga bulan setelah Sudaryono dilantik menjadi Kepala Badan Gizi Nasional, dan akan mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Mengapa kami menaruh harapan besar? Karena kami mengenal watak orang Kie Raha.

1. Dari Baret Merah ke Hamparan Sawah

Perjalanan Letjen Saleh Mustafa bukan perjalanan karier instan. Ia ditempa di Grup 1 Parako Kopassus di Serang, satuan yang mengajarkan disiplin, kecepatan, dan ketepatan dalam mengambil keputusan di titik kritis.

Watak militer yang terukur itulah yang hari ini dibutuhkan dunia pertanian kita. Pertanian Indonesia tidak lagi sekadar soal cangkul dan panen. Ia adalah soal logistik, irigasi, pupuk yang tepat waktu, rantai pasok, dan perang melawan mafia pangan. Ia butuh komandan lapangan yang mengerti strategi, bukan sekadar administrator di belakang meja. Inilah yang kami sebut sebagai “tangan dingin”.

2. Tantangan yang Menanti di Depan Mata

Tugas Wamentan tidak ringan. Di satu sisi, Presiden Prabowo menargetkan swasembada pangan berkelanjutan dan program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan bahan baku raksasa dari petani kita sendiri. Di sisi lain, petani kita masih menjerit soal harga pupuk, alih fungsi lahan, dan anomali cuaca.

Kita butuh terobosan: mekanisasi pertanian untuk menarik minat anak muda, modernisasi irigasi di lahan kering seperti di Maluku Utara, Maluku, NTT, dan Papua, serta jaminan harga yang membuat anak petani mau kembali ke sawah, bukan meninggalkannya.

3. Harapan dari Timur: Kie Raha untuk Indonesia

Sebagai bagian dari Tokoh Maluku Utara Jabodetabek, saya melihat pengangkatan Putra Kie Raha ini sebagai simbol pemerataan. Selama ini Maluku Utara dikenal dengan nikel dan rempah, tetapi sering lupa bahwa kami juga adalah lumbung kopra, cengkeh, pala, dan pisang. Petani kepulauan kita menghadapi tantangan paling berat: ongkos logistik mahal dan akses pasar terbatas.

Kami menanti sentuhan tangan dingin Jenderal Saleh untuk melihat pertanian kepulauan tidak lagi dipandang sebagai pinggiran, melainkan sebagai kekuatan. Jika sistem logistik pertanian kepulauan bisa dibenahi di Maluku Utara, maka model itu bisa direplikasi untuk seluruh Indonesia Timur.

Ini bukan soal primordialisme. Ini soal pembuktian bahwa anak dari ujung timur, dari negeri Moloku Kie Raha, negeri empat gunung kesultanan, bisa bekerja untuk kemakmuran petani dari Sabang sampai Merauke.

Akhirnya, kami dari Dewan Pengurus Tokoh Maluku Utara Jabodetabek mengucapkan selamat bertugas kepada Bapak Letjen TNI (Purn) H. M. Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian RI Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024-2029.

Semoga amanah. Selamat bertugas untuk kemajuan pertanian Indonesia. Dari hamparan padi di Jawa sampai kebun pala di Kie Raha, kami menanti panen raya keadilan dan kemakmuran. (**)

_________

Penulis adalah tokoh Maluku Utara Jabodetabek

Baca Juga:  Dari Timur Indonesia, Kiprah Namto Menuju Panggung Politik Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *