Korban Framing “Bisnis PCR”: “Dibunuh” Berkali Kali, tapi Tidak Mati

Framing yang bertubi-tubi

Winston Churchill memang cerdas dengan mengatakan dalam perang, Anda hanya bisa dibunuh satu kali, tetapi dalam politik Anda bisa dibunuh berkali-kali. Setidaknya ini terjadi pada narasi pemberitaan tentang bisnis PCR yang muncul sejak November 2021.

Cerita media, terutama yang beredar di media sosial, berharap mampu menempatkan cerita itu dalam pikiran warga. Bahkan jika memungkinkan mempengaruhi masyarakat.

Dalam teori hipodermik framing pemberitaan tentang diskursus pejabat publik yang diadukan terkait bisnis PCR itu disuntikkan berkali kali agar pesan-pesan persuasif yang disampaikan pembuat narasi dapat mengubah pikiran dan psikologi masyarakat.

Sangat jelas, latar belakang narasi bisnis PCR bertendensi politis. Pertama, narasi ini tidak menginginkan sebuah pemecahan masalah, melainkan adanya motif untuk menegakkan sebuah aturan yang meskipun tidak terbukti hal itu tetap harus dilakukan. Untuk penegakan politik kah? Tapi ini terlalu ideal.

Baca Juga:  Herson Mayulu: PUPR Paling Besar Menyediakan Lapangan Kerja

Sebab bagaimana mungkin kita menegakkan pendidikan politik sementara itu akan merusak citra dan nama baik orang lain. Sadar atau tidak, hal ini tetap menyangkut sebuah kredibilitas. Sementara pihak-pihak yang menjadi korban framing narasi bisnis PCR itu telah menjelaskan secara lugas dalam sebuah “pengadilan” (dalam tanda kutip) yang secara eksplisit menjelaskan persoalan yang sesungguhnya.

Kedua, narasi bisnis PCR ini terkesan dipaksakan dalam situasi pandemi Covid-19. Di mana policy maker di negara ini tengah berjuang mengatasi pandemi. Bisnis PCR seolah menjadi sebuah interupsi yang semestinya tidak berkepanjangan.

Jika ini semacam warning early system agar para pejabat negara berhati-hati terhadap bisnis ini semestinya isu tersebut tidak berkembang.

Baca Juga:  Susul Arief, Evi, Giliran Komisioner KPU Pramono Positif Corona

Seolah menginginkan adanya efek hiu. Di mana ketika terdapat luka berbagai kalangan akan mengejar dan mempersoalkan persoalan itu.

Tapi luka ada. Pelanggaran itu tidak terjadi dalam konteks bisnis PCR ini. Pejabat yang dipersoalkan pun terkesan dipukul berkali-kali di tempatnya memang tidak luka. Kalau ini kita kaitkan dengan jurus kungfu di mana Master Kung-fu berkata seranglah pada tempat yang terluka. Tapi ini tidak ada luka. Tidak ada celah disitu terkait dengan sebuah pelanggaran.

Akibatnya walaupun dipukul berkali-kali tidak terjadi apa-apa. Bahkan masyarakat sekarang jadi imun terhadap isu bisnis PCR ini sebagai sebuah komoditas politik.

Kalau kita kembali kepada teori hipodermik framing pemberitaan, maka suntikan suntikan narasi yang yang terkait bisnis PCR justru membuat masyarakat sudah imun. Jadi ini hanya membuang energi. Karena masyarakat telah imun dan tidak terpengaruh apa-apa.

Ketiga, realitas yang terjadi di masyarakat terkait bisnis PCR justru ada pada harga PCR tersebut di lapangan. Ini yang jadi masalah konkret. Sebab selama ini Pemerintah juga terus berupaya menurunkan harga PCR tersebut dengan meminta pihak-pihak yang menyelenggarakan PCR agar terus menurunkan harga PCR sehingga terjangkau oleh masyarakat.

Realitas ini sebetulnya lebih produktif untuk dibahas bukan membahas para pejabat yang memang sudah tidak terbukti melakukan bisnis itu.

  • (KHAIDIR ASMUNI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *