Terkait Kekerasan PMI, Migrant Watch Tuntut Pemerintah Malaysia

Aznil Tan

EXPOSEMEDIA, Jakarta – Atas peristiwa tragis menimpa Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Nani (bukan nama sebenarnya) asal Banyuwangi, Jawa Timur dikecam keras oleh Aktivis Migrant Watch. Nani (39) mengalami luka bakar di bagian punggung dan lengan akibat disetrika dan disiram air panas.

Direktur Eksekutif Migrant Watch Aznil Tan menuntut pemerintah Malaysia untuk mengakhiri perilaku warga negaranya melakukan kekerasan kepada pekerja migran asal negara manapun.

“Sebagai negara beradab, pemerintah Malaysia harus menindak tegas warga negaranya melakukan kekerasan kepada pekerja migran dari asal negara manapun,” katanya kepada media, Jakarta (2/5/2023).

Aznil Tan menyampaikan bahwa kasus kekerasan sudah sering terjadi dan pelakunya jarang mendapatkan hukuman berat dari penegak hukum Malaysia

Baca Juga:  Rapim, Benny Rhamdani: Penempatan PMI Dilakukan Secara Holistik Integratif

“Kasus menimpa pada PMI Nani tidak bisa lagi dikategorikan kasustik, dianggap lagi apes. Dari pantauan kami, perilaku keji itu sering dilakukan oleh majikan Warga Negara Malaysia kepada PMI. Mirisnya, pelakunya sering lolos dari jeratan hukum,” ujarnya.

Aktivis pekerja migran ini menyampaikan pemerintah Indonesia perlu melakukan evaluasi kerjasama ketenagakerjaaan antara Indonesia dengan Malaysia dalam pelindungan PMI.

“Ini mesti dievaluasi total kerjasama ketenagakerjaaan dengan Malaysia. Jika pemerintah Malaysia tidak komit menindak perilaku kekerasan kepada PMI, pemerintah Indonesia harus mempersiapkan kerjasama ke negara lain yang lebih manusiawi,” tegasnya.

Selain itu, Aznil Tan menilai kekerasan acap menimpa PMI juga dikarenakan kegagalan dalam mendesain kerjasama ketenagakerjaaan. Hal itu diperburuk mental pejabat yang korupsi.

Baca Juga:  AMIN, Sarung, dan Santri

“Ini akibat ketidakbecusan mendesain sistem kerjasama, sistem OCS (One Channel System) yang dibuat, sehingga membuka celah besar bagi PMI masuk secara ilegal. Ditambah mental korup pada kedua pejabat negara semakin memperparah karut-marutnya kerjasama. Maka jangan heran, sampai kiamat pun tragedi kemanusiaan ini tetap terus terjadi,” ungkapnya.

Ia berharap pertemuan Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan Presiden Jokowi pada awal tahun kemarin untuk segera ditindaklanjuti lebih konkrit.

“Pertemuan antara Anwar Ibrahim dengan Jokowi di awal tahun kemarin membahas PMI dan bahkan ada rencana melakukan aksi bersih-bersih. Tidak ada salahnya menata ulang kembali. OCS itu jelas-jelas sudah gagal. Kedepan sistem harus komprehensif, simple dan digitalisasi serta bersih dari bancakan,” pungkasnya.

Baca Juga:  DPP KNPI Desak Pemerintah Pusat Segera Bersikap Soal Penembakan di Papua

Sebagaimana diketahui, baru-baru ini, Duta Besar RI untuk Malaysia, Hermono, mengaku heran mengapa kekerasan terhadap PRT asal Indonesia terus terjadi.

Dia telah menjabat sebagai Dubes di Kuala Lumpur selama 2,5 tahun dan menyaksikan hampir setiap hari KBRI menerima laporan terjadinya perlakuan tidak manusiawi terhadap pekerja rumah tangga Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Hermono disaat menjenguk Nani (bukan nama sebenarnya) di Rumah Sakit Kuala Lumpur (HKL) pada 30 April 2023 korban kekerasan oleh majikannya. Nani mengalami luka bakar di bagian punggung dan lengan akibat disetrika dan disiram air panas. (*/Amas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *