HomeBerita Utama

Mega Marine Biodiversiti, Masa Depan Pengobatan Modern Ada di Laut Indonesia

Peta

EXPOSEMEDIA, JAKARTA – Di tengah situasi dunia yang mengalami pergeseran konstalasi politik ekonomi dari hegemoni Barat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kabinetnya muncul sebagai negara yang memainkan peran politik ekonomi strategis dalam konstalasi global. Seluruh mata dunia pun memandang Indonesia sebagai suatu kekuatan baru, baik dari sisi politik ekonomi global maupun keberlanjutan ekosistim dunia.

“Karena kebijakan nasional dan regional yang dibangun oleh Pemerintahan Indonesia, akhirnya dunia melihat bahwa Indonesia bukan lagi hanya mitra strategis, namun menjadi negara yang akan memimpin perubahan peradaban dunia. Sumber daya manusia Indonesia memiliki nilai luhur yang mampu mengikuti perubahan dengan tetap menjaga ketahanan peradaban nusantaranya. Terlebih, hingga saat ini, sumber daya alam Indonesia masih mengandung banyak sumber mineral, sumber pangan, serta sumber farmasi.” ujar Ahli Kelautan dan Perikanan Freude TP Hutahaea dalam rilis yang diterima redaksi, di Jakarta, Rabu (15/6/2022).

Dalam konstalasi regional, menurut pria yang akrab disapa Roy ini, perairan laut Indonesia adalah gerbang penghubung aliran barang serta berbagai jaringan pipa dan kabel dari seluruh dunia. Dan sebesar 13 persen gunung aktif di dunia berada di Indonesia. Aktifitas vulkanologi ini salah satunya adalah sumber hangatnya perairan laut di Indonesia, di samping menjadi sumber mineral-mineral yang dibutuhkan biota laut juga menghasilkan mineral tambang berharga yang terpendam di dasar laut Indonesia.

Baca Juga:  62 TAHUN LANYALLA; Dari Spritualitas Hingga Dunia Realitas

“Dari air laut saja terdapat lebih dari 40 ion mineral seperti klorida, natrium, magnesium, sulfat, kalsium, potassium, carbon, bromide, boron, stortium, fluoride, zinc, nikel, thorium, vanadium, dan lain-lain. Belum lagi kandungan mineral pada batuan dasar laut yang hingga saat ini orientasi dan kemampuan teknologi kita baru sebatas pasir laut untuk kepentingan reklamasi, belum mencapai pengolahan/ekstraksi material baru dan langka (rare earth),” ulas Roy.

Menurut Roy, nilai dan fungsi strategis perairan laut Indonesia di dunia tidak semata-mata sumber daya Ikan dan rumput laut yang telah banyak berkonstribusi terhadap pendapatan negara dan kesejahteraan nelayan Indonesia. Pengelolaan potensi sumber daya laut Indonesia harus juga dilakukan secara menyeluruh dan penuh kehati-hatian, sehingga tidak menjadi salah kelola, agar tidak mengulangi kesalahan pengelolaan sumber daya alam Indonesia seperti sebelumnya.

“Fakta dan data mengatakan bahwa Indonesia sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit telah mengarungi lautan untuk menyatukan pulau-pulau Nusantara, dan secara geografis Indonesia adalah Negara Maritim terbesar di sepanjang garis Katulistiwa maka karakteristik oceanografi lautan Indonesia menyimpan Mega Sumberdaya Perikanan dan Biota Laut. Sehingga sudah tepat jika Presiden Jokowi membangun visi kelautan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” tegas Roy.

Baca Juga:  Senator Djafar Ajak Umat Muslim Manado Semarakkan Takbiran

Meski demikian, Roy menjelaskan, saat ini tantangannya bagaimana menerjemahkan visi Poros Maritim Dunia menjadi nyata dalam arah pembangunan kelautan jangka panjang, rencana strategis jangan pendek maupun jangka menengah serta Tahapan Rencana Aksi yang dapat diimplementasikan, diawasi dan memberikan konstribusi positif bagi masyarakat dan negara.

“Agenda Pembangunan Nasional di sektor Kelautan seharusnya bukan agenda yang disusun dalam satu malam yang menyebabkan monotasi rencana aksi yang berulang dari tahun ke tahun. Rencana aksi harus disusun secara komprehensif, membangun skenario-skenario pengelolaan antisipatif dan adaptif terhadap perubahan global, membangun dan memetakan sinergitas ekosistim internal maupun antar institusi pemerintah, membangun jejaring kerjasama antar negara yang prospektif dengan pertimbangan prudential sehingga tidak menjadi “ranjau” yang melemahkan pertahanan keamanan dan ketahanan nasional,” ulas Roy.

Selanjutnya Roy menjelaskan, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di sepanjang garis khatulistiwa yang menjadikan Indonesia wilayah Mega Marine Biodiversiti di dunia. Semua mata dunia tertuju ke Indonesia, masa depan obat-obatan (farmasi), makanan super (superfood) masa depan, teknologi material masa depan (rare earth), dan sumber air masa depan. Penelitian farmakologi era sekarang banyak mengeksplorasi sumber daya perikanan dan biota laut sebagai sumber bahan farmasi baru bagi peradaban pengobatan modern.

Baca Juga:  Antara Bongbong dan Cendana

“Dengan kandungan kelimpahan sumber daya perairan laut Indonesia sehingga disematkan sebagai Mega Marine Biodiversiti di dunia, maka masa depan pengobatan modern dan ke depan ada di Laut Indonesia. Potensi Mega Biodiversity Laut Indonesia itu adalah terkandungnya 8.500 spesies ikan di mana 37% spesies ikan dunia ada di Laut Indonesia, 555 species rumput laut atau 5% dari species rumput laut dunia terkandung di laut Indonesia, 950 spesies terumbu karang atau sekitar 48% species terumbu karang dunia ada di Indonesia,” papar Roy.

Terumbu karang, menurut Roy, adalah rumah bagi 25% species biota laut. Tantangan terbesar dari potensi ini adalah belum adanya pengembangan Industri Bioteknologi dan Industri Biofarmasi berbasis sumber daya kelautan di Indonesia.

“Hal ini dapat dilihat di pasaran obat-obatan, makanan fungsional, dll, yang masih dikuasai produk-produk impor, terutama dari Amerika dan Eropa,” pungkas Roy. (*/Redaksi)

COMMENTS